Sunday, October 7, 2012

BRANDY



Ben Hur Lampman

Tahun demi tahun berlalu dan telah membuat Brandy semakin tua. Musim demi musim telah membuat rapuh kehidupan tubuhnya. Waktu berlalu terasa sangat cepat dan bunga-bunga telah berkembang indah, tapi bagi Brandy hanya tersisa sedikit waktu lagi.

Telah tiga hari ini Brandy tidak mau makan. Ia tertidur di rumah kandangnya yang teduh di bawah pohon rindang depan rumah kami. Aku segera memindahkannya ke Teras Rumah, supaya hubungan kami bisa lebih dekat lagi. Brandy terlihat sangat lemah dan beristirahat di situ. Di sampingnya ada piring makan dari besi tempa yang sudah bertahun-tahun selalu digunakannya. Tapi pagi ini ia tidak lagi mencoba mengangkat kepalanya . Ia tidak mau makan dan tidak mau minum.

Aku duduk di sampingnya dan membelai bulu-bulu di kepalanya yang masih lebat. Aku mencoba berbincang-bincang dengannya seolah-olah dia bisa mengerti. Kupegang kepalanya di kedua tanganku dan kubisikkan kata-kata bahwa aku sangat menyayanginya. Satu kakinya kuangkat dan dengan lembut kusentuh bantalan kakinya yang lunak.

Tiba-tiba aku tersentak, Aku tidak bisa membiarkannya menyerah… paling tidak, tidak sekarang ini… Akupun bergegas dan membawanya ke Klinik Hewan terdekat… Ia pun disuntik dan diberi infus… Beberapa saat kemudian kelihatannya kondisinya membaik dan sudah bisa dibawa pulang.
Keesokan harinya kondisinya terlihat membaik. Dia terlihat berusaha untuk bangkit berdiri. Akupun menyuapinya makanan dan memberinya minu susu. Kusuapi obat yang harus diminumnya secara teratur dan berharap ia dapat pulih kembali dan bermain-main dengan ceria seperti dulu.

Tetapi malamnya tiba-tiba kondisinya memburuk lagi. Aku melihatnya seperti sedang menahan rasa sakit yang luar biasa dan matanya meneteskan air mata.Kelihatannya dia sudah menjadi semakin sangat lemah. Meski begitu Brandy berupaya mengangkat kepalanya dan mencari-cari wajahku. Aku menaruh tanganku di kepala Brandy dan menggaruk-garuk dagunya sambil berdoa dan berkata “Oh Tuhan betapa aku sangat menyayangi teman setiaku ini….” Kuajak Brandy berbincang-bincang tentang masa lalu dan betapa Aku sangat menyayanginya… Ada perasaan dalam hatiku bahwa Aku akan segera kehilangan dia…. Kutelepon Olivia untuk mengabari kondisi anjing kesayangannya… “JANGAN BIARKAN BRANDY MATI!!!”, jawabnya berharap.

Akupun tersentak dan seperti kesetanan bergegas melarikannya ke Klinik Hewan yang masih buka Praktek. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam… Sementara perjalanan ke Klinik tersebut bisa memakan waktu +/- 40 menit. Kularikan kendaraanku dengan kecepatan sangat tinggi. Berlomba dengan sang maut untuk menyelamatkan teman setiaku ini.

Sepanjang perjalanan terbayang jelas sosok Brandy bertahun-tahun ini. Ia selalu duduk di pekarangan rumah kami… menunggu-nunggu kami pulang dari bekerja hanya sekedar untuk disapa dan dibelai kepalanya. Brandy dan Anakku Rhea sering bermain-main keliling komplek dengan sangat Ceria sambil mengibas-ngibaskan ekornya dan memasang wajah Cerinya. Brandy memang merupakan sosok anjing yang selalu ceria. Ia selalu memperlihatkan ekspresi riang gembira menyambut kami yang baru pulang dari kesibukkan sehari penuh. Bahkan Brandy tidak pernah memperlihatkan kesedihan ketika dia sedang sakit beberapa tahun lalu dan tetap memperlihatkan kegembiraannya melihat kedatangan kami.

Akhirnya Akupun tiba di Klinik tersebut. Waktu menunjukkan sudah pukul 11.30 malam. Ternyata perjalananku lebih cepat 10 menit dari yang seharusnya. Drh. Rudy segera memeriksa keadaan brandy… tapi Brandy baru saja menghembuskan nafas terakhirnya… Kupeluk badannya yang masih hangat, dimana jantungnya yang penuh Cinta sekarang sudah tak berdetak lagi… Dan untuk terakhir kalinya kuhirup bau tubuhnya yang sudah begitu akrab.

Semalam menjelang pagi aku tak dapat tidur dan waktu berlalu tak nyata… keesokan harinya Brandy dikuburkan disamping rumah kandangnya yang teduh dibawah pohon rindang. Rumah kandangnya yang khusus di depan rumah kami, sekarang terasa besar sekali…. dan kosong sekali… tinggal temannya Brandy yaitu Dogie yang dulu selalu berebut dengannya untuk mendapatkan belaian tangan kami dikepalanya…Aku masih harus menahan kepedihan yang mendalam setiap kali lupa dan menoleh untuk mengatakan sesuatu kepadanya dan kemudian menyadari bahwa dia tidak ada di tempat kesayangannya, demikian pula dia tidak akan berada di sana lagi secara fisik… tapi keceriaannya tak akan pernah hilang dipelupuk mataku setiap kali aku memejamkan mata… Good Bye Brand, My lovely Dog
















No comments:

Post a Comment