Ben
Hur Lampman
Tahun demi tahun berlalu dan
telah membuat Brandy semakin tua. Musim demi musim telah membuat rapuh kehidupan
tubuhnya. Waktu berlalu terasa sangat cepat dan bunga-bunga telah berkembang
indah, tapi bagi Brandy hanya tersisa sedikit waktu lagi.
Telah tiga hari ini Brandy tidak
mau makan. Ia tertidur di rumah kandangnya yang teduh di bawah pohon rindang depan
rumah kami. Aku segera memindahkannya ke Teras Rumah, supaya hubungan kami bisa
lebih dekat lagi. Brandy terlihat sangat lemah dan beristirahat di situ. Di
sampingnya ada piring makan dari besi tempa yang sudah bertahun-tahun selalu
digunakannya. Tapi pagi ini ia tidak lagi mencoba mengangkat kepalanya . Ia
tidak mau makan dan tidak mau minum.
Aku duduk di sampingnya dan
membelai bulu-bulu di kepalanya yang masih lebat. Aku mencoba
berbincang-bincang dengannya seolah-olah dia bisa mengerti. Kupegang kepalanya
di kedua tanganku dan kubisikkan kata-kata bahwa aku sangat menyayanginya. Satu
kakinya kuangkat dan dengan lembut kusentuh bantalan kakinya yang lunak.
Tiba-tiba aku tersentak, Aku
tidak bisa membiarkannya menyerah… paling tidak, tidak sekarang ini… Akupun
bergegas dan membawanya ke Klinik Hewan terdekat… Ia pun disuntik dan diberi infus…
Beberapa saat kemudian kelihatannya kondisinya membaik dan sudah bisa dibawa
pulang.
Keesokan harinya kondisinya
terlihat membaik. Dia terlihat berusaha untuk bangkit berdiri. Akupun
menyuapinya makanan dan memberinya minu susu. Kusuapi obat yang harus
diminumnya secara teratur dan berharap ia dapat pulih kembali dan bermain-main
dengan ceria seperti dulu.
Tetapi malamnya tiba-tiba
kondisinya memburuk lagi. Aku melihatnya seperti sedang menahan rasa sakit yang
luar biasa dan matanya meneteskan air mata.Kelihatannya dia sudah menjadi
semakin sangat lemah. Meski begitu Brandy berupaya mengangkat kepalanya dan
mencari-cari wajahku. Aku menaruh tanganku di kepala Brandy dan menggaruk-garuk
dagunya sambil berdoa dan berkata “Oh Tuhan betapa aku sangat menyayangi teman
setiaku ini….” Kuajak Brandy berbincang-bincang tentang masa lalu dan betapa Aku
sangat menyayanginya… Ada perasaan dalam hatiku bahwa Aku akan segera
kehilangan dia…. Kutelepon Olivia untuk mengabari kondisi anjing kesayangannya…
“JANGAN BIARKAN BRANDY MATI!!!”, jawabnya berharap.
Akupun tersentak dan seperti
kesetanan bergegas melarikannya ke Klinik Hewan yang masih buka Praktek. Waktu
sudah menunjukkan pukul 10 malam… Sementara perjalanan ke Klinik tersebut bisa
memakan waktu +/- 40 menit. Kularikan kendaraanku dengan kecepatan sangat
tinggi. Berlomba dengan sang maut untuk menyelamatkan teman setiaku ini.
Sepanjang perjalanan terbayang
jelas sosok Brandy bertahun-tahun ini. Ia selalu duduk di pekarangan rumah kami…
menunggu-nunggu kami pulang dari bekerja hanya sekedar untuk disapa dan dibelai
kepalanya. Brandy dan Anakku Rhea sering bermain-main keliling komplek dengan
sangat Ceria sambil mengibas-ngibaskan ekornya dan memasang wajah Cerinya.
Brandy memang merupakan sosok anjing yang selalu ceria. Ia selalu memperlihatkan
ekspresi riang gembira menyambut kami yang baru pulang dari kesibukkan sehari
penuh. Bahkan Brandy tidak pernah memperlihatkan kesedihan ketika dia sedang
sakit beberapa tahun lalu dan tetap memperlihatkan kegembiraannya melihat
kedatangan kami.
Akhirnya Akupun tiba di Klinik
tersebut. Waktu menunjukkan sudah pukul 11.30 malam. Ternyata perjalananku
lebih cepat 10 menit dari yang seharusnya. Drh. Rudy segera memeriksa keadaan
brandy… tapi Brandy baru saja menghembuskan nafas terakhirnya… Kupeluk badannya
yang masih hangat, dimana jantungnya yang penuh Cinta sekarang sudah tak
berdetak lagi… Dan untuk terakhir kalinya kuhirup bau tubuhnya yang sudah
begitu akrab.
Semalam menjelang pagi aku tak
dapat tidur dan waktu berlalu tak nyata… keesokan harinya Brandy dikuburkan
disamping rumah kandangnya yang teduh dibawah pohon rindang. Rumah kandangnya yang
khusus di depan rumah kami, sekarang terasa besar sekali…. dan kosong sekali…
tinggal temannya Brandy yaitu Dogie yang dulu selalu berebut dengannya untuk
mendapatkan belaian tangan kami dikepalanya…Aku masih harus menahan kepedihan
yang mendalam setiap kali lupa dan menoleh untuk mengatakan sesuatu kepadanya
dan kemudian menyadari bahwa dia tidak ada di tempat kesayangannya, demikian
pula dia tidak akan berada di sana lagi secara fisik… tapi keceriaannya tak
akan pernah hilang dipelupuk mataku setiap kali aku memejamkan mata… Good Bye
Brand, My lovely Dog
No comments:
Post a Comment